COVID sang Balada Kehidupan

Assalamu'alaikum semuaa,,,,

Well, sudah hampir kurang lebih dua tahun tidak membuat cerita disini. Dua tahun ini (2020-2021) adalah tahun sulit ketika semua takdir beriringan datang. Tahun dimana seluruh umat manusia dilanda wabah COVID-19 or virus Corona, yang asalnya dari negri bambu. Kini situasi sudah mulai membaik. 

Kini dalam lembar kosong blog ini ane berbagi kisah yang mungkin sebagian mengalaminya. Tahun dimana sulit sekali mendapatkan 'hidup layak' dimana-dimana ada kemiskinan, kematian, kehilangan pekerjaan, rasa  putus asa, kecewa sampai bahkan depresi. Hal-hal tersebut sangatlah wajar terjadi. Beberapa hal diawal yang datang dengan cepat tanpa permisi pasti menimbulkan hal tersebut. Sampai akhirnya hanya kepada Allah lah semua berlindung dan berserah diri. Segala macam bentuk ikhtiar menjaga kesehatan dari rempah-rempah hingga obat kimia yang sangat banyak untuk menyerang virus.

Di Indonesia, virus ini menyebar bagai oktaf yang terus meninggi hingga kehilangan suara. Setiap hari berita penyebaran virus setiap daerah diberitakan dari kasus infeksi terkonfirmasi sampai kematian. Suasana diawal sangatlah mencekam. Orang-orang berbondong-bondong menutupi diri di rumah masing-masing, menjaga diri dengan masker dan penutup muka, keluar hanya beli kebutuhan dasar (pangan), sampai mencari bahan2 untuk kebersihan diri (sabun cuci tangan & hand sanitiazer) dan kebersihan rumah (disinfektan) yang di pasaran hampir sangat langka. Harga semua naik, pasokan masker habis, tenaga medis kewalahan, rumah sakit penuh, ambulan berlalu lalang di jalan kecil maupun besar, ditambah berita update tentang covid menjadi-jadi hampir setiap waktu. Benar-benar situasi yang membuat gempar.

Ane gak akan berkomentar tentang bagaimana pemerintah menanganinya dan sebagainya karena pasti panjang x lebar kalau dijelasin disini. Perlu digarisbawahi semua yang terjadi saat itu sampai sekarang hanya karena kehendak Allah semata. 

Tahun 2020, ane sedang dimasa menyelesaikan skripsi yang digarap dari akhir tahun 2019. Skripsi dengan judul yang sederhana ini "Karakteristik Kimia dan Sensori Fruit Leather Kolang Kaling (Arenga pinnata Merr.) dan Ubi Ungu (Ipomoea batatas L.)" ~mungkin lain waktu ane cerita khusus tentang garapan skripsi ini ~ menjadi tolak ukur kisah selanjutnya. 

Singkat cerita selesai skripsi dan wisuda, ane pengen healing dulu or libur dulu dari hiruk pikuk satu bulan kurang lebih di bulan Januari 2021. Ini cerita sedih banget sebenernya agak gak kuat juga kalo cerita langsung, tapi karena ingin sharing ke kalian ~mungkin nanti ada yang baca~ untuk di ambil pelajaran bersama. Ane mulai yaa,,,

Akhir januari pada malam hari mama merasa sesak napas bagian dada bawah sebelah kiri. Malam itu hanya kami bertiga (ane, mama dan adek) kami panik menenangkan mama yang ketika itu. Dari memberikan minyak angin, air hangat dan segala upaya untuk meredakan sakitnya. Sampai bapak pulang dari kerjanya mama masih sesak, binggung harus bagaimana sampai akhirnya mama agak membaik keadaannya. Pagi selanjutnya dibawa ke klinik, karena mama punya riwayat sakit maag dokter mendiagnosakan seperti itu. Bulan selanjutnya mama sangat ingin kita bertiga pulang kampung untuk menengok makam mbah/kakek yang memang ane & adik belum pernah melihatnya. Akhirnya kita pulang kampung dan melepaskan kangen dengan keluarga yang ada disana.

Sebenarnya keadaan mama waktu itu, tidak memungkinkan untuk kami pergi. Setelah seminggu disana kami diminta pulang oleh bapak. Waktunya pulang, mama merasakan tidak enak badan sampai ketika di bus yang berAC merasakan sesak napas kembali dengan keadaan menggigil + sangat kesakitan disitu kami sangat panik. Ane bertanya-tanya sakit apa sampai bisa seperti ini. Ketidaktahuan dan kebodohan ane yang tidak mengerti situasi saat itu harus apa. Dari situ mama berobat terus2san hampir 3-4 kali dalam bulan tersebut. Sampai akhirnya berobat terakhir diminta rujuk ke RS. HC ke dokter penyakit dalam. Dari dokter tersebut langsung diminta ke UGD, disana penanganannya sangat lambat dan UGD penuh jadi harus antri. Keadaan genting itu membuat harus mengantri, ane sangat kecewa. Lalu lama menunggu mama diminta cek rapid test, rotgen dada dan diberikan oksigen karena ternyata saturasi oksigennya kurang dari 90.

Hasilnya mama reaktif saat cek rapid test dan yang bikin panik yaitu adanya pembesaran jantung dan infeksi paru-paru. Dimana RS tersebut tidak bisa atau tidak ada tempat untuk perawatan kemudian kami diminta rujuk ke RS yang lebih besar. Singkat cerita ane sama bapak langsung membawa mama ke RS. SMC ke UGD. Langsung ditangani diminta cek dengan PCR, sambil menunggu hasil ternyata mama POSITIF COVID. Pertemuan terakhir itu sangat singkat, hingga mama dibawa masuk ke ruang isolasi di UGD tersebut. Sedih bukan main, tertekan sangat, sampai jalan sempoyongan, entah gak bisa menerjemahkan apa yang terjadi, sampai menyalahkan diri sendiri kenapa ane gak peka,, sampai ke titik dimana ane pasrah dengan kehendak-Nya ini. Dari pihak RS kami diminta untuk membawa perlengkapan mama (hp, dll) yang akan diisolasi disana. Mama pada waktu itu terlihat tegar dan pasrah, tetapi juga ada perasaan cemas. Karena kami tidak boleh menjenguk hanya dapat bertegur sapa lewat hp. Saat itu kami mengurung diri di rumah. Tidak lama dari mama di rawat di RS, pihak pt dari bapak bekerja meminta bapak untuk test PCR dan hasilnya POSITIF COVID. Disitu ane lemes banget dan memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi. Gejala yang dialami bapak saat itu yaitu deman naik turun, pilek + batuk, dan badan lemas. Kemudian ane ambil langkah pencegahan dengan mencari cara ikhtiar untuk virus itu dari cari di google dan teman-teman sekitar yang pernah mengalaminya. Mulai dari rempah-rempah, obat racikan sampai obat kimia bisa dibilang hampir tiap hari kami mengkonsumsinya. Biasanya virus menginfeksi 7-14 hari sampai virus tersebut mati. 

Bersambung...





Komentar